News Ticker

Pikun Bukan Lupa Biasa

By fatur nugraha - Minggu, 06 November 2016 No Comments




Hati-hati dengan lupa. Sering orang menganggap lupa sebagai hal yang lumrah. Mulanya lupa menaruh kunci, kemudian pada level akut bisa jadi lupa nama, atau wajah kenalan-kenalannya. Lupa jenis ini sering kita temui pada lanjut usia. Lazimnya kita lebih mengenal penyakit ini dengan istilah "pikun".

Pikun atau Dimensia sejatinya merupakan penurunan kemampuan kerja otak secara progresif yang berujung pada gangguan otak. Gangguan ini dapat berupa fikiran, daya ingat bahkan sampai pada mental dan perilaku seseorang. Nah pada umumnya yang sering dikenal adalah Demensia Alzhemier dan Demensia Vaskuler, tidak menutup kemungkinan untuk jenis Demensia yang lain.

Dilansir dari Palembang Tribunnews, Dr Jimm Sabirin SpS Spesialis Syaraf mengungkapkan bahwa pengidap penyakit ini biasaya seseorang dengan usia lanjut dengan kisaran umur 65 ke atas, namun penyakit ini juga bisa muncul pada usia yang lebih muda atau dikenal dengan Demensia dini. Lebih lanut ia menerangkan, dilihat dari tingkatan pengidap dimensia berdasarkan jenisnya maka Dimensia Alzhemier paling banyak yakni 60 - 80 persen, sedangkan Demensia Vaskuler berkisar 20 persen, lalu Demensia Lewi Bowl sekitar 15 - 20 persen dan Demensi Fronto temporal sebesar 5 sampai 20 persen. Sedangkan sisa Demensia jenis lain berkisar 5 persen. Dmensia juga bisa bisa timbul secara campuran, bisa jadi campuran Demensia Vaskuler dan Demensia Alzhemier.

Gejala
Setiap jenis Demensia memiliki tanda yang berbeda, Demensia Alzhemier contohnya, dimana penderita menderita penyakit cepat lupa atau masalah daya ingat lainnya. Pada tingkat level kritis, ukuran otak penderita akan mengecil. Jadi jangan heran apabila ada penderita yang mengalami kesulitan berbicara, gangguan kejiwaan seperti depresi hingga delusi.

Pada demensia vaskuler, pengaruhnya lebih kepada penyakit lain seperti stroke, diabetes dan gangguan jantung. Contohnya pada penyakit stroke dimana seseorang bisa mengalami penurunan hingga kelupaan.

Namun sebagaimana dilansir dari kompas.com masalah pikun dapat dikenali sejak dini.

1. Mengalami gangguan pada fungsi kognitif.
Pada pasien demensia, setidaknya mengalami gangguan pada fungsi kognitifnya. Gangguan tersebut dapat ditemukan pada

1. Memori
2. Berkomunikasi dan Bahasa
3. Kemampuan untuk fokus dan memeprhatikan sesuatu
4. Fungsi untuk menilai dan mempunyai alasan akan aktivitas yang dilakukan
5. Persepsi penglihatan.

Pada pasien demensia biasaya mengalami masalah pada memori jangka pendek, seperti lupa menaruh, lupa janji atau lupa membayar hutang. Sedangkan yang sering dilupakan keluarga adalah fungsi memori jangka panjangnya tidak mengalami masalah. Akibatnya keluarga sering meangaggap ingatan penderita masih cukup bagus karena mampu mengingat kejadian yang sudah lama terjadi.

2. Gejala perasaan dan perilaku
Behavioral and Psycological Symthomps of Dimensia (BPSD) merupakan gejala yang dialami penderita dimensia yang berakibat muncul perasaan depresit atau kekacauan dalam proses berpikirnya. Bentuknya bermacam-macam. Penderita akan sering marah-marah, mudah curiga, bahkan mengalami halusinasi melihat orang-orang yang sudah meninggal datang kembali sampai pada paranoid. Bahkan ada juga, penderita demensia yang sering hilang dari rumah karena merasa tidak sedang tinggal dirumahnya atau berperilaku aneh.

Bisa diperlambat

Deteksi secara dini dapat memperlambat demensia. Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi dengan obat demensia holongan kolinesterase inhitor (Donepezil) pada demensia ringan mampu memeperbaiki fungsi kognitif. Sayang masih belum terbukti baik pada demensia berat. Selain itu vitamin E juga berperan dalam memperlambat progresifitas demensia. Ingat terapi hormonal dengan estrogen tidak disarankan. 

Terapi obat andepresan SSRI dan obat antipsikotik dapat dilakukan pada penderita yang mengalami gangguan psikotik dan depresif seperti pada penderita yang mengalami BPSD. Olah raga serta modifikasi perilaku dan penjadwalan kegiatan toilet training sangat diperlukan. Jalan-jalan di pagi hari yang cerah terbukti secara penelitian sangat baik. Selain itu mendengarkan musik yang menenangkan terutama saat makan dan mandi secara ilmiah terbukti mengurangi masalah yang berkaiatan dengan perilaku. Hal - hal seperti ini perlu dipahami oleh keluarga. 
Ingat tingkat usia harapan hidup yang semakin baik, berbanding lurus dengan problem demensia yang semakin besar. Cegah demensia sebelum terlambat, Pikun bukan lupa biasa.

No Comment to " Pikun Bukan Lupa Biasa "